Thursday, October 28, 2010

hanya kita

tak perlu memahami untuk bisa menikmati
bukan begitu, K ?


ternyata memang hanya kita berdua yang bisa
big hug!!

Wednesday, October 27, 2010

lelah

sakit
kepala saya sakit
hati saya sakit
badan saya sakit
semua sakit

bahkan orang yang saya anggap menyayangi saya sepenuhnya bisa membuat saya sesakit ini. apa sudah waktunya berhenti? berhenti menganggap. berhenti percaya. berhenti berharap. toh, pada akhirnya manusia hidup sendiri-sendiri. tak ada yang akan dengan sukarela memasang badannya untuk saya. tak pernah ada yang secara sukarela. secara cuma-cuma. harus ada timbal baliknya. harus ada harga yang dibayar. bukankah saya sangat mengerti. yang paling berpotensi menyakiti adalah orang yang kita sayangi? lalu untuk apa membuka hati untuk kesekian kali. keledai saja tak akan pernah jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali.

untuk apa berharap pada ia yang menolak mengerti? untuk apa berharap pada ia yang menolak percaya? untuk apa takut sendiri? bukankah nanti memang akan berakhir sendiri? saya tak mau terlalu muluk. saya menolak sakit lagi. saya lelah sakit sendiri. saya kuat. saya mampu. saya plegma. tak peduli dan tak mau repot mencari tahu. seperti yang ia bilang. sudah cukup.

Saturday, October 9, 2010

life

never regret your life even its not always wonderful

shyrdjfr

Wednesday, October 6, 2010

high

pernah saya bercerita tentang sebuah lagu yang ditulis dan dimelodikan untuk saya.
ini liriknya.

you lying on the blue sky
when we're kiss each other shy, oh my
like we, we're own this world
and you, you can ask me anything that you want, and i will fly

it must be kind of dreaming
we're sleeping on the same land
why are you look so cute and i dont know how to sound

take me on the highest road now




tak lama kemudian ia berpesan
"nanti kalau kamu sudah terbangun dari mimpi, jangan lupa cari aku di samping kamu ya" -K-


Tuesday, October 5, 2010

absurd

semalam dia bertingkah aneh, ada yang salah waktu saya menyempatkan telepon sebelum tidur. hanya ingin berbagi kalau saya hari ini dengan sukses melewati hari pertama diet. mencari perhatian, bahasa teman saya demikian. bener juga sih. di samping saya memang kangen. hanya belasan detik sebelum akhirnya telepon ditutup. sapaannya tak seperti biasa. ada yang janggal, tapi kemudian saya biarkan saja. mungkin saya yang terlalu sensitif. dia bilang sedang ngobrol dengan temannya, dan dari nada bicaranya seakan ia enggan mengakhiri obrolannya. ya sudah. saya tidak mau mengganggu.

saya baru tertidur sebentar. dia menelepon dan bertanya apa saya masih mau berbincang. saya mengiyakan. lalu yang terlontar bukan obrolan yang biasa. minor dan ironi lebih banyak terdengar. ia mengeluh. sedang bertengkar hebat dengan pasangannya. kerjaannya berantakan. saya tanya lebih lanjut ia menolak bercerita. yang ia sampaikan berikutnya malah membuat kantuk saya hilang. ia mulai melantur membicarakan hubungan kami. menghakimi seperti orang lain. menganggap semua yang kami lakukan percuma. yang benar saja. seharusnya jika percuma ia sadar sejak lama. bukan sekarang. bukan kemarin malam. lalu ia mulai berwacana untuk meninggalkan saya. supaya saya bahagia. supaya pasangan saya bahagia. apa-apaan? bukankah selama ini antara saya dan dia. kenapa tiba-tiba pasangan saya dibawa-dibawa? kebahagiannya pula. janggal. saya kecewa.

yang membuat tambah naik darah ia dengan santai berkata supaya saya tak usah belagak care. saya memang care. bukan hanya berlagak. jujur saya tersinggung. dia orang yang saya sayang. sudah naluri saya khawatir. sekali lagi bukan saya berlagak. dia mengeluh. orang yang care padanya tak bisa dia miliki. buat apa? saya tak menjawab. bukan karena saya tak punya jawaban. tak ingin saja. saya punya jawabannya. jawaban yang pas. tapi sudahlah. tidak ada gunanya menambah masalah.

usut punya usut, ternyata dia habis menenggak minuman beralkohol. jackdi dan semacamnya. katanya mabuk sedikit. tapi analisa saya mengatakan tak hanya sedikit. sedikit baginya banyak bagi saya. saya tau ia peminum. kalau memang benar sedikit tak akan semelantur itu ucapannya. pemikirannya juga. saya maklum. mungkin beban hidup sedang menghimpitnya. tak memberi ruang untuk bernafas. semua dari kita pasti pernah mengalaminya. terjatuh, terpelanting dengan keras, hingga tak menemukan cara untuk bangkit sesaat itu. saya tak beralih. mungkin saat ini ia yang butuh pegangan. lain waktu bisa saja giliran saya.

diet

hari pertama diet!! menahan lapar ternyata sebegitu menyengsarakan. padahal saya sudah dibantu obat. obat yang bisa membuat saya tidak lapar lagi tapi berganti haus. hari ini entah sudah berapa liter saya minum air putih. pipis terus jadinya. beser! sebenernya nggak ada orang yang bilang saya gemuk. bohay! bahasa mereka. pas. tapi saya nggak merasa begitu. saya merasa kaki dan lengan saya terlalu besar. jadi nggak proporsional. tidak sedap dipandang. apalagi kaki saya. sudah pendek. banyak timbunan lemak pula. nggak ada bagus-bagusnya kalau pakai celana skini. padahal saya hobi pakai skini. jadilah hari ini badan saya lemas. nggak yang sampai lemas banget. tapi kerasa kekurangan tenaga. nggak kayak biasanya. tapi harus sabar! harus buletin tekad. pasti bisa kurus. pasti bisa turun sepuluh kilo. pasti!!!

jadi saya harap mental dan fisik saya bekerja sama. jangan ngambek! ;p

Friday, October 1, 2010

lover things

" kamu nggak perlu takut, misal suatu saat hubungan kita ketauan. bukan aku sama kamu yang akan berantem. tapi aku sama dia.
aku nggak minta kamu ngelakuin hal yang sama tapi aku berani jamin. disuruh milih pun aku pasti milih kamu, bukan dia."

kalaupun endingnya nanti sakit, saya harap sakitnya nggak sampai yang banget ya, K. kita kan kekasih. sesama kekasih dilarang saling menyakiti. ;p

BATIK Day

Jumat, 2 Oktober UNESCO menetapkan batik sebagai world heritage dan seluruh dunia merayakannya. mari kita berpartisipasi dengan mengenakan batik pada 2 Oktober 2009 (kemarin).

kira-kira begitu bunyi sms dan broadcast message BBM yang saya terima dua hari yang lalu (1 Oktober 2009). ajakan untuk mengenakan batik ini menurut saya tentu sangat positif mengingat isu klaim mengklaim batik antara negara kita dan negara tetangga yang sempat memanas beberapa bulan yang lalu. sedikit banyak ajakan ini akan mengingatkan kita untuk kembali menaruh perhatian pada batik, setelah sebelumnya sempat (lagi-lagi) terlupakan. jika kita mengingat kembali, beberapa saat yang lalu batik pernah menjadi tren fesyen yang menyedot perhatian berbagai kalangan (tentu masih dapat diingat dengan jelas ketika banyak sekali pakaian berbahan dasar batik memenuhi etalase toko baik di berbagai pusat perbelanjaan kelas atas sampai pasar tradisional). namun yang mengecewakan, layaknya tren fesyen yang silih berganti, batik mulai ditinggalkan dengan datangnya tren baru yang dirasa lebih fresh. disadari atau tidak, orang-orang mulai jarang menggunakan batik akhir-akhir ini dibanding pada saat batik sedang menjadi tren. Hari Batik sedunia yang jatuh pada 2 Oktober 2009 seakan menjadi alarm pengingat bagi kita untuk kembali memakai batik dan mencintai kebudayaan asli Indonesia ini.


Namun pernahkah terlintas di pikiran kita? bagaimana jika hari batik ini akan berakhir sama dengan tren batik beberapa saat yang lalu? kasarnya, kita berbondong-bondong memakai batik pada hari ini hanya karena kita ingin eksis, ingin disebut peduli, dan mungkin ekstrimnya dianggap nasionalis. yang saya takutkan hari batik ini hanya menjadi tren dadakan yang tidak akan bertahan lama dan mudah dilupakan, persis sama seperti yang sudah-sudah.


kemarin home twitter dan facebook saya tiba-tiba saja kebanjiran status bertemakan batik, sebagian besar merupakan ajakan untuk berbatik, sebagian yang lain bersikap sinis dengan pola pemikiran yang tidak jauh berbeda dengan pola pikir saya. lain dunia maya lain dunia nyata, kampus saya juga mendadak dipenuhi dengan mahasiswa dan dosen yang berbusana batik. suatu pemandangan yang sangat kontras dengan keseharian di kampus saya sebelum-sebelumnya. saya sendiri memilih untuk tidak berbatik. bukan karena saya tidak mencintai indonesia dan bangga dengan seni dan kebudayaan kita (batik) melainkan karena saya merasa masih belum bisa memegang komitmen untuk terus berbatik setelah hari batik kemarin.


saya merasa berbatik di hari batik bukan sekedar ajang untuk eksis, disebut peduli batik atau cinta produk dalam negeri. menurut saya berbatik merupakan sebuah tanggung jawab besar dimana kita harus mampu memperkenalkan batik lebih dan lebih lagi, mempertahankan eksistensinya supaya tetap bisa bertahan dan tidak tergeser tren lain dan (ini yang paling berat) mempersuasi sekitar untuk tetap melestarikannya saat hari batik sudah lewat. bisa kita bayangkan bukan jika kita sibuk berburu batik sehari sebelum (Mirota-salah satu indonesian art shop mendadak dipenuhi orang-orang domestik bukannya wisatawan asing), berbondong-bondong memakai batik keesokan harinya, namun kembali memakai produk impor setelahnya. tidakkah dirasa sangat miris dimana orang hanya sadar berbatik di hari peringatannya ?


yang menggelitik saya, beberapa teman bertanya mengapa saya tidak berbatik dan secara instan menyimpulkan bahwa saya tidak mau berpartisipasi, bahkan mungkin saya dianggap tidak cinta batik indonesia (karena kebetulan saya warga keturunan). bukankah sangat dangkal jika kita menilai rasa nasionalisme seseorang hanya melalui takaran mereka berbatik atau tidak di hari batik?


biarlah,, yang pasti saya tau dengan yakin...

saya cinta indonesia meski saya tak berbatik
saya tetap cinta produk indonesia karena saya cinta kaos-kaos distro saya ^^

NB: melalui pernyataan ini saya berani berkomitmen untuk memakai produk clothing dalam negeri sesering yang saya bisa.




*SELAMAT HARI BATIK*





Postingan di atas adalah tulisan saya 3 Oktober tahun lalu. Di saat semua orang menggembar-gemborkan hari Batik untuk pertama kalinya. masih angek-angek tai ayam. dimana di semua mata memandang yang saya temukan adalah orang-orang berbatik. tapi sekarang, satu tahun berselang. adakah gemanya? adakah gaungnya? masih adakah sisanya? bahkan mungkin banyak yang lupa. saya tersenyum. sinis. sarkastis. menyedihkan sekali nasib batik di negeri sendiri. tren sesaat kemudian lenyap. kemana larinya orang-orang yang taun lalu dengan bangga numpang eksis? yang mengaku dirinya cinta produk dalam negeri dan nasionalis? atau mental mereka juga ikut hilang terbawa arus tren? sedangkan kalau anda tanya saya? sampai sekarang saya masih setia dengan semua kaus distro saya. produk dalam negeri juga, hanya generasi terbaru. jika ukuran nasionalisme hanya diukur dari sana. saya yang harusnya disebut nasionalis! bukan mereka yang dengan pongah memandang saya dengan tatapan menghakimi hanya karena saya tak berbatik.

tapi saya menolak! saya belum berani menyebut diri saya sendiri nasionalis. saya orang Indonesia dan meski saya warga keturunan, saya suka dan bangga menjadi orang Indonesia.