Tuesday, October 5, 2010

absurd

semalam dia bertingkah aneh, ada yang salah waktu saya menyempatkan telepon sebelum tidur. hanya ingin berbagi kalau saya hari ini dengan sukses melewati hari pertama diet. mencari perhatian, bahasa teman saya demikian. bener juga sih. di samping saya memang kangen. hanya belasan detik sebelum akhirnya telepon ditutup. sapaannya tak seperti biasa. ada yang janggal, tapi kemudian saya biarkan saja. mungkin saya yang terlalu sensitif. dia bilang sedang ngobrol dengan temannya, dan dari nada bicaranya seakan ia enggan mengakhiri obrolannya. ya sudah. saya tidak mau mengganggu.

saya baru tertidur sebentar. dia menelepon dan bertanya apa saya masih mau berbincang. saya mengiyakan. lalu yang terlontar bukan obrolan yang biasa. minor dan ironi lebih banyak terdengar. ia mengeluh. sedang bertengkar hebat dengan pasangannya. kerjaannya berantakan. saya tanya lebih lanjut ia menolak bercerita. yang ia sampaikan berikutnya malah membuat kantuk saya hilang. ia mulai melantur membicarakan hubungan kami. menghakimi seperti orang lain. menganggap semua yang kami lakukan percuma. yang benar saja. seharusnya jika percuma ia sadar sejak lama. bukan sekarang. bukan kemarin malam. lalu ia mulai berwacana untuk meninggalkan saya. supaya saya bahagia. supaya pasangan saya bahagia. apa-apaan? bukankah selama ini antara saya dan dia. kenapa tiba-tiba pasangan saya dibawa-dibawa? kebahagiannya pula. janggal. saya kecewa.

yang membuat tambah naik darah ia dengan santai berkata supaya saya tak usah belagak care. saya memang care. bukan hanya berlagak. jujur saya tersinggung. dia orang yang saya sayang. sudah naluri saya khawatir. sekali lagi bukan saya berlagak. dia mengeluh. orang yang care padanya tak bisa dia miliki. buat apa? saya tak menjawab. bukan karena saya tak punya jawaban. tak ingin saja. saya punya jawabannya. jawaban yang pas. tapi sudahlah. tidak ada gunanya menambah masalah.

usut punya usut, ternyata dia habis menenggak minuman beralkohol. jackdi dan semacamnya. katanya mabuk sedikit. tapi analisa saya mengatakan tak hanya sedikit. sedikit baginya banyak bagi saya. saya tau ia peminum. kalau memang benar sedikit tak akan semelantur itu ucapannya. pemikirannya juga. saya maklum. mungkin beban hidup sedang menghimpitnya. tak memberi ruang untuk bernafas. semua dari kita pasti pernah mengalaminya. terjatuh, terpelanting dengan keras, hingga tak menemukan cara untuk bangkit sesaat itu. saya tak beralih. mungkin saat ini ia yang butuh pegangan. lain waktu bisa saja giliran saya.

No comments:

Post a Comment