kira-kira begitu bunyi sms dan broadcast message BBM yang saya terima dua hari yang lalu (1 Oktober 2009). ajakan untuk mengenakan batik ini menurut saya tentu sangat positif mengingat isu klaim mengklaim batik antara negara kita dan negara tetangga yang sempat memanas beberapa bulan yang lalu. sedikit banyak ajakan ini akan mengingatkan kita untuk kembali menaruh perhatian pada batik, setelah sebelumnya sempat (lagi-lagi) terlupakan. jika kita mengingat kembali, beberapa saat yang lalu batik pernah menjadi tren fesyen yang menyedot perhatian berbagai kalangan (tentu masih dapat diingat dengan jelas ketika banyak sekali pakaian berbahan dasar batik memenuhi etalase toko baik di berbagai pusat perbelanjaan kelas atas sampai pasar tradisional). namun yang mengecewakan, layaknya tren fesyen yang silih berganti, batik mulai ditinggalkan dengan datangnya tren baru yang dirasa lebih fresh. disadari atau tidak, orang-orang mulai jarang menggunakan batik akhir-akhir ini dibanding pada saat batik sedang menjadi tren. Hari Batik sedunia yang jatuh pada 2 Oktober 2009 seakan menjadi alarm pengingat bagi kita untuk kembali memakai batik dan mencintai kebudayaan asli Indonesia ini.
Namun pernahkah terlintas di pikiran kita? bagaimana jika hari batik ini akan berakhir sama dengan tren batik beberapa saat yang lalu? kasarnya, kita berbondong-bondong memakai batik pada hari ini hanya karena kita ingin eksis, ingin disebut peduli, dan mungkin ekstrimnya dianggap nasionalis. yang saya takutkan hari batik ini hanya menjadi tren dadakan yang tidak akan bertahan lama dan mudah dilupakan, persis sama seperti yang sudah-sudah.
kemarin home twitter dan facebook saya tiba-tiba saja kebanjiran status bertemakan batik, sebagian besar merupakan ajakan untuk berbatik, sebagian yang lain bersikap sinis dengan pola pemikiran yang tidak jauh berbeda dengan pola pikir saya. lain dunia maya lain dunia nyata, kampus saya juga mendadak dipenuhi dengan mahasiswa dan dosen yang berbusana batik. suatu pemandangan yang sangat kontras dengan keseharian di kampus saya sebelum-sebelumnya. saya sendiri memilih untuk tidak berbatik. bukan karena saya tidak mencintai indonesia dan bangga dengan seni dan kebudayaan kita (batik) melainkan karena saya merasa masih belum bisa memegang komitmen untuk terus berbatik setelah hari batik kemarin.
saya merasa berbatik di hari batik bukan sekedar ajang untuk eksis, disebut peduli batik atau cinta produk dalam negeri. menurut saya berbatik merupakan sebuah tanggung jawab besar dimana kita harus mampu memperkenalkan batik lebih dan lebih lagi, mempertahankan eksistensinya supaya tetap bisa bertahan dan tidak tergeser tren lain dan (ini yang paling berat) mempersuasi sekitar untuk tetap melestarikannya saat hari batik sudah lewat. bisa kita bayangkan bukan jika kita sibuk berburu batik sehari sebelum (Mirota-salah satu indonesian art shop mendadak dipenuhi orang-orang domestik bukannya wisatawan asing), berbondong-bondong memakai batik keesokan harinya, namun kembali memakai produk impor setelahnya. tidakkah dirasa sangat miris dimana orang hanya sadar berbatik di hari peringatannya ?
yang menggelitik saya, beberapa teman bertanya mengapa saya tidak berbatik dan secara instan menyimpulkan bahwa saya tidak mau berpartisipasi, bahkan mungkin saya dianggap tidak cinta batik indonesia (karena kebetulan saya warga keturunan). bukankah sangat dangkal jika kita menilai rasa nasionalisme seseorang hanya melalui takaran mereka berbatik atau tidak di hari batik?
biarlah,, yang pasti saya tau dengan yakin...
saya cinta indonesia meski saya tak berbatik
saya tetap cinta produk indonesia karena saya cinta kaos-kaos distro saya ^^
NB: melalui pernyataan ini saya berani berkomitmen untuk memakai produk clothing dalam negeri sesering yang saya bisa.
*SELAMAT HARI BATIK*
Postingan di atas adalah tulisan saya 3 Oktober tahun lalu. Di saat semua orang menggembar-gemborkan hari Batik untuk pertama kalinya. masih angek-angek tai ayam. dimana di semua mata memandang yang saya temukan adalah orang-orang berbatik. tapi sekarang, satu tahun berselang. adakah gemanya? adakah gaungnya? masih adakah sisanya? bahkan mungkin banyak yang lupa. saya tersenyum. sinis. sarkastis. menyedihkan sekali nasib batik di negeri sendiri. tren sesaat kemudian lenyap. kemana larinya orang-orang yang taun lalu dengan bangga numpang eksis? yang mengaku dirinya cinta produk dalam negeri dan nasionalis? atau mental mereka juga ikut hilang terbawa arus tren? sedangkan kalau anda tanya saya? sampai sekarang saya masih setia dengan semua kaus distro saya. produk dalam negeri juga, hanya generasi terbaru. jika ukuran nasionalisme hanya diukur dari sana. saya yang harusnya disebut nasionalis! bukan mereka yang dengan pongah memandang saya dengan tatapan menghakimi hanya karena saya tak berbatik.
tapi saya menolak! saya belum berani menyebut diri saya sendiri nasionalis. saya orang Indonesia dan meski saya warga keturunan, saya suka dan bangga menjadi orang Indonesia.
tapi saya menolak! saya belum berani menyebut diri saya sendiri nasionalis. saya orang Indonesia dan meski saya warga keturunan, saya suka dan bangga menjadi orang Indonesia.
No comments:
Post a Comment