Wednesday, January 25, 2017

Selamat Berbahagia

Hampir dua tahun, selama itu saya tidak menulis apa-apa, dan dimana-dimana. Mengingat saya hanya menulis disini dan naskah novel saya yang tidak kunjung selesai. Dalam dua tahun belakangan, saya tidak ingat apa saja hal benar-benar penting yang terlewatkan untuk dicatat disini. Atau hidup saya sungguh membosankan hingga saya tak merasa perlu mencatat. Yang pasti banyak hal terjadi, sedih dan senang silih berganti, seandainya saya bisa memilih untuk terus senang terus tanpa sedikitpun sedih. Oiya,  saya juga merasa bertambah tua, leher saya sering sakit karena kolesterol, hidup saya semakin tak asik karena dikejar angsuran. Teman saya bilang kalau manusia belum bisa disebut dewasa kalau belum berurusan dengan angsuran, tak peduli apapun bendanya. Seandainya jaminan surga juga bisa diangsur dengan semua niat dan tingkah laku baik terhadap sesama pasti hidup terasa lebih ringan untuk dihadapi.

Dan dalam dua tahun ini begitu banyak yang berubah, sadar tidak sadar. Termasuk hidup laki-laki yang pernah begitu saya puja siang dan malam melebihi Tuhan. Hampir semua catatan saya disini berhubungan dengannya. Memang lebih banyak curahan hati yang muram. Saya tahu. Jadi rupanya Sabtu depan, bertepatan dengan hari ulang tahun pacar saya saat ini, ia akah menikah. Praise the Lord!!! Akhirnya ia menikah. Tentu saja dengan wanita yang ia cintai, asumsi saya. Jangan keliru, asumsi saya barusan bukan berlandaskan cemburu. Hanya saja mengingat begitu banyak babak yang ia lewati dan saya ketahui, begitu susah menemukan lelaki itu seratus persen berkomitmen dengan perempuan waras. Mengapa demikian? Entah kenapa pacar-pacarnya terdahulu (yang saya kenal) selalu berpembawaan psikopat. Saya sungguh tidak berlebihan dengan deskripsi psikopat, hampir semua mantan pacarnya selalu punya riwayat cemburuan, protektif, tukang marah, emosi meledak-ledak dan main tangan. Mantan pacarnya selain saya tentu, itupun kalau saya pernah dianggap pacar. Tapi ia yang biasanya akan mengelak dengan menyebut saya kekasih. Kala itu saya akan senang bukan kepalang dengan sebutan 'kekasih'. Jangan menghakimi, saya tahu saat itu saya bodoh, dungu dan tolol.

Saya tidak begitu mengenal calon istrinya. Kami tidak berteman di jejaring sosial manapun, juga tidak merasa perlu bersilaturahmi. Meski tidak kenal, saya sadar ia tidak suka kepada saya. Mantan kekasih calon suaminya yang sampai sekarang masih berteman baik dan sesekali bertukar komentar dan emoticon di jejaring sosial privat. Jangan bilang saya GR. Saya yakin perempuan itu tidak suka saya. Dalam beberapa kesempatan, perempuan itu akan muncul dengan komentar sindiran di beberapa moment yang diupload dimana saya lebih dulu berkomentar. Iya, menyindir saya. Setelah menimbang-nimbang, saya mulai mengurangi pemberian emoticon dan komentar di jejaring sosial milik mantan kekasih saya itu. Untuk kehidupan yang lebih indah aman sentosa bagi sesama. Dalam kalimat yang lebih sederhana, saya ogah cari gara-gara.

Jujur, saya tidak yakin mereka akan cocok. Jangan bilang saya klise, menikah memang tidak melulu soal cocok atau tidak. Tapi coba hitung berapa banyak pasutri yang memilih bercerai dengan alasan sudah tidak cocok. Saya yakin sebenarnya ada alasan yang jauh lebih kompleks, tapi daripada membuka aib dan luka lama, bukankah alasan "sudah tidak cocok" akan lebih enak didengar? Tapi siapakah saya yang bisa sok meramal jalan hidup orang lain. Kalau para kerabat saya bilang, tidak ada orang yang sempurna, dan tidak akan pernah ada orang yang seratus persen cocok kalau kita tidak mau mencocokkan diri. Jadi saya berkesimpulan, hubungan apapun akan berhasil jika masing-masing tidak egois, bersedia menghormati dan menghargai orang lain, dan satu lagi yang terpenting, banyak-banyaklah bersabar.

Oiya, pernikahan itu. Saya tidak diundang. Saat saya konfirmasi kenapa saya tidak diundang, ia beralasan bahwa ia sudah mengundang semua orang melalui jejaring sosial. Saya orang yang konvensional, saya tidak akan hadir tanpa undangan resmi yang dikirim ke alamat rumah, sahut saya. Ia beralasan, saya menanggapi semakin asal. Tak apa, lagipula saya tahu kehadiran saya akan membuat suasana runyam, persis seperti saat terakhir kali saya menghadiri pernikahan mantan. Setelah berdebat masalah undangan, saya mengucapkan selamat atas pernikahannya, selamat berbahagia. Saya harap ia bahagia, karena hidup terlalu singkat untuk dilalui dengan banyak drama seperti hidupnya yang lalu-lalu. Semoga ini adalah babak baru yang dinantikan setiap orang yang menikah, babak penuh tawa bahagia dan sedikit air mata.

Selamat menempuh hidup baru. Bahagialah selalu.



*Ditulis pertengahan Juli 2016, diselesaikan Januari 2017


**Sembilan tahun sudah, saya rasa sudah saatnya saya berhenti menulis disini. Karena tidak akan ada cerita baru yang bisa ditulis untuk dibaca saat rindu. Tidak akan ada kenangan baru yang sayang untuk dilupakan. Terima kasih, kepada kamu, kepada saya yang naif kala itu. Live bold, have no regret.

Bahagia adalah

Bahagia adalah membuka mata di pagi hari dan kau menyambutku dengan senyummu

Bahagia adalah terpapar sinar matahari pagi

Bahagia adalah bau tanah yang merasuk ke hidung saat gerimis tiba

Bahagia adalah bertelanjang kaki menginjak pasir pantai yang basah

Bahagia adalah memasang headphone, mendengar lagu favorit berulang-ulang, dan melarikan diri sejenak dari sekitar

Bahagia adalah senyum simpul saat mendengar sebagian dari lagu yang buat saya anehnya indah

Bahagia adalah membaca tulisan feminis-feminis hebat

Bahagia adalah menyetir di jalan bebas hambatan ditemani sebatang Dunhill

Bahagia adalah menonton gigs, sambil bernyanyi denganmu

Bahagia adalah tangan yang menghitam terkena tinta koran saat membungkus kotak sepatu

Bahagia adalah masakan rumah

Bahagia adalah bungkusan nasi Padang

Bahagia adalah indomi goreng di tengah malam saat kita berbincang via telepon

Bahagia adalah pujian tentang suaraku yang seksi di pagi hari

Bahagia adalah melihat senyummu yang malu-malu

Bahagia adalah hembusan napasmu saat akan mencuri cium di pipi, yang sayangnya batal.

Bahagia adalah pelukan canggung saat kita hendak berpisah

Bahagia adalah barista yang menyambutmu saat berkunjung ke kedai kopi ikan duyung

Bahagia adalah memilih warna untuk kuku

Bahagia adalah berkunjung ke toko buku, mencari sumber inspirasi baru

Bahagia adalah saling balas sarkasme dan sindiran

Bahagia adalah melihatmu bahagia bersama pasanganmu


*Ditulis pada 17 Februari 2014

Random Text

Him : Kamu bukan lana del rey, kamu copa del rey
Her : Hahaha, nggak apa, berarti aku diperebutkan banyak lelaki, bayangkan berapa banyak yang memperebutkan aku? Seisi spanyol, hahaha.
Him: Kamu keingetan aku tapi di kuping kamu suara cewek lain, how dare you?
Him: My favorite woman is on skype right now
Him: Lho Libra itu diam-diam jelesan lho
Her: Kok tiba-tiba ganti baju? Tadi item bukannya?
Him: Biar samaan pake ijo
Her: Because you are my rainy man, di saat kamu keluar selalu mengundang hujan

*Ditulis pada 13 November 2013

Sunday, April 20, 2014

Terimakasih, K

God is working in mysterious way, but dont worry with the result, its always the best for you. Banyak masa dimana dulu saya selalu mengkritik cara kerja Tuhan, beberapa kali bahkan saya marah. Tapi perlahan saya diajarkan untuk menerima, toh saya ini kepunyaan-Nya. Dan saya perlahan percaya bahwa kalau bukan bahagia berarti ini bukan akhir, ini masih proses, supaya nantinya kebahagiaan terasa lebih, dan bersyukurpun terasa sangat pantas untuk dilakukan.

Setelah enam tahun, Tuhan menjawab. Jawabannya tidak menyenangkan, tapi herannya tidak terlalu sakit. Sebulan terakhir saya dihadapkan dengan banyak kebenaran, dan saat kebenaran terasa begitu penting untuk dibicarakan, saat itulah kebenaran tidak akan pernah terasa menyenangkan. Karena selama ini ia ditutupi, selama ini ia disembunyikan rapat, selama ini ia sesak napas. Terima kasih karena sudah tidak jujur. Terima kasih karena sudah mengijinkan saya mengetahui apa yang sebenarnya kamu rasakan. Rasa yang selama ini tidak pernah ada untuk saya, sungguh terima kasih. Enam tahun, kamu mengajarkan saya banyak hal. Dan puncaknya dengan bantuanmu saya diajarkan untuk mencintai diri saya sendiri sebelum orang lain manapun. Menempatkan kebahagiaan saya selalu di puncak teratas daftar orang-orang yang ingin saya bahagiakan.

Terimakasih untuk obrolan pintar yang sampai saat ini belum pernah saya temukan dari orang lain
Terimakasih untuk ribuan jam yang kamu habiskan untuk saya dengan berbincang di telepon
Terimakasih untuk beberapa hari indah saat kita benar-benar bersama
Terimakasih untuk jamuan makan malamnya
Terimakasih untuk pagi saat kamu bangun tepat di samping saya
Terimakasih untuk beberapa cangkir kopi dan teh di sela obrolan
Terimakasih untuk hadiah ulang tahunnya
Terimakasih untuk tiga kali tiket bioskop dan satu trip Transjakarta
Terimakasih untuk lagu yang kamu bilang kamu tulis sambil memikirkan saya
Terimakasih untuk pujian "kamu cantik" nya
Terimakasih untuk semangat dan kata-kata positif
Terimakasih untuk semua kata-kata cinta, rindu dan sayang
Terimakasih untuk kamu, sayang

Ada masa dimana saya benar-benar mencintai kamu. Dimana hidupku bergerak dengan kamu sebagai penggerak semangatnya. Dimana banyak waktu kuhabiskan untuk memikirkanmu dan apa yang kamu lakukan disana. Dimana saya pernah begitu merindukanmu dan bingung karena tidak bisa menghubungimu. Dimana saya pernah ingin kawin lari denganmu.

Sepertinya kali ini bukan akhir yang indah untuk saya dan kamu. Mungkin akhir indah saya bukan denganmu, akhir indahmu bukan dengan saya. Tapi saya percaya setiap kita berhak dan pasti mendapatkan akhir yang indah. Saya harap kamu juga percaya.


Terimakasih, K

Sunday, February 16, 2014

Kryptonite

Once this silly statement came up in our conversation, "We are a personal brand of kryptonite for each other, for both of us." Yang saya tau kryptonite ini adalah material yang bisa bikin kalah Superman. Itu saja. Tanpa keinginan lebih untuk mencari tau apakah kryptonite yang sakti ini benar-benar ada. Dan setelah mampir sebentar di wikipedia, ternyata kryptonite ini memang hanya mitos.

"Kryptonite (Not to be confused with Krypton) is a fictional material from the Superman mythos—the ore form of a radioactive element from Superman's home planet of Krypton. Within the mythos, it is the ultimate natural weakness of Superman and most other Kryptonians

Kembali ke kita, kamu bilang kita seperti kryptonite. Jadi secara harafiah bisa diartikan kalau kita sama-sama mematikan untuk satu sama lain. Romantis atau sinis? Yang pasti, setelah semakin lama saya semakin merasa. Kamu memang kryptonite saya. Dan dari sekian banyak jenis kryptonite, maybe you are the green one. Nampaknya saja tidak mematikan dalam waktu singkat, namun efek jangka panjangnya yang mematikan. Dan sama seperti green kryptonite, seringkali berbincang denganmu membawa energi positif tersendiri, senang dan puas. Dan yang paling penting saya tidak merasa sendiri saat ada kamu, saat masih ada kamu yang bisa saya ajak berbincang tengah malam sembari menghisap habis Dunhill terakhir hari itu.

Seorang teman berkata, mungkin yang saya butuhkan sebenarnya bukan sosok kamu. Tapi lebih ke sosok teman bercakap yang cerdas, yang bisa memuaskan pikiran dan imajinasi liar saya. Sosok teman yang sama alien-nya, yang tidak akan pernah menghakimi. Teman berdebat yang pantas, dan teman bercinta yang panas. Saya mengangguk beberapa kali saat mendengarnya. Bisa saja benar, mungkin karena tidak pernah ada yang menggantikan posisimu. Atau saya yang tidak pernah mengijinkan posisimu untuk digantikan. Tidak ada yang sepadan bila dibandingkan denganmu. Atau saya yang memasang standar 'kamu' sehingga tidak akan pernah ada yang sepadan. Kalimat berikutnya menghentak saya, "bagaimana mungkin kamu begitu tidak adil? Di dunia ini tidak ada orang yang sempurna, dan aku yakin dia juga tidak. Tapi yang selama ini kamu lakukan adalah menutup mata pada kelemahannya. Yang lebih tidak adil, kamu membandingkan kelemahan pria lain dengan kelebihannya?" 

Hari-hari terakhir saya kembali banyak berpikir. Kebiasaan buruk orang berzodiac ikan yang sangat tidak menyehatkan. Overthink. Or maybe a lil bit masochist. Saya banyak menahan diri, dan akibatnya saya menderita lebih banyak. Lalu momen itu datang, saya marah. Marah kepadamu, terlebih pada diri sendiri. Saya tidak peduli apa yang terjadi padamu hari itu, saya tidak tahu, dan kamu kelewatan. Jika menurutmu diam dan menghindar adalah jawaban. Sungguh itu tidak berhasil menjawab apapun. And dont play as a victim! Sudah terlalu sering saya mengalah, saya mengiyakan saja, saya mencoba paham. Dan mungkin kali ini saya gagal. Maybe you are my personal brand of kriptonyte. Bertahan sedemikian lama bukannya tanpa perjuangan. Bukannya tanpa rasa sakit. Begitu juga untukmu. Saya tau.

But i think i almost done, i'm already on the side of the cliff. We've been in this kind of situation before, many times. Now its all on you, if you want to pull me, show me! If you want to push me, go ahead! The wind blows strong and cold, I cant feel my leg anymore.

Kryptonite is not good for Superman, maybe same for us.

Wednesday, December 11, 2013

Life's been Good

Setiap kita pasti pernah bertanya dan ditanya kabar, jawabannya tentu bermacam-macam pula. Baik, buruk, bahagia, sedih, marah, dan berbagai kata sifat lain. Pertanyaan itu juga sampai pada saya, bagaimana kabarmu? Jawaban saya, it depends. Namun jika pertanyaan itu ditanyakan beberapa hari terakhir, saya akan tersenyum sebelum menjawab, "Life's been good! At least for me, I dont know for you, how about you?" Sebenarnya saya bukan jenis orang yang positif, malah cenderung ke arah sebaliknya. Orang-orang terdekat saya tentu sangat paham dengan kebiasaan saya melihat sesuatu dari sisi negatif terlebih dulu daripada memikirkan kemungkinan yang enak. Saya punya filosofi bodoh ini, saya percaya bahwa setiap orang akan selalu "siap" dihadapkan pada kebetulan yang menyamankan. Tapi tidak semua orang akan "siap" dengan keadaan sebaliknya, ambil saja contoh kalau tiba-tiba harus kehilangan. Apapun itu. Jadi tidak ada salahnya memikirkan yang buruk-buruk dulu, karena saat mendapat kejutan manis, setiap kita tentu tidak akan pernah tidak "siap", bahkan tanpa persiapan sekalipun. Bukannya manusia hidup mencari senang?

Pertanyaan basa-basi seperti di atas seringkali saya jawab juga dengan jawaban basa-basi. Kadang sekenanya. Jangan harap pernah bisa mengintip isi hati dan kehidupan saya jika manusianya tidak saya anggap penting. Sedikit congkak memang. Tapi bukankah pada dasarnya setiap individu itu makhluk yang egois, dan saat manusia bertanya belum tentu juga ia benar-benar ingin tahu. Kalau tidak tak akan muncul istilah basa-basi busuk bukan?  Atau sebenarnya yang ingin ia tahu bukan keadaan yang sebenarnya tapi hanya sekedar membandingkan siapa yang lebih sengsara setelah lama tidak bertemu. Menyedihkan tapi itulah hidup bermasyarakat.

"Life's been good!" Kali ini jawaban saya bukan basa-basi, meskipun saya yakin esensi dan tendensi penanyanya masih tidak berubah. Para penanya biasanya akan langsung memasang wajah palsu kombinasi sedikit kernyitan dan senyum dipaksakan sebelum mengajukan pertanyaan susulan. "Is there something good happen? Tell me, tell me." Biasanya saya hanya akan tertawa dalam hati, tapi saya tahu tidak baik demikian. Bagikan kebahagiaanmu dan percaya bahwa banyak kebahagiaan menantimu kemudian. Sebenarnya tidak ada yang berubah dengan keadaan saya saat ini, masih sama persis seperti awal tahun. Saya masih pengangguran, masih sendiri, masih hidup sederhana, masih bermasalah dengan keluarga, masih merasa perlu mencari apa yang harus dicari. Then what? Saya juga tidak tahu, tapi mungkin saya menambah porsi rasa syukur. Terdengar klise memang. Tapi itu resep manjur untuk menjalani hidup sedikit lebih ringan. Setiap orang mempunyai masalahnya sendiri, dan berat ringannya tetap tidak bisa dibandingkan. Saya percaya itu dan saya masih terus belajar untuk tidak pernah memandang sebelah mata terhadap apapun yang dianggap sesama adalah masalah. Saya belajar untuk lebih banyak mendengar, memperbesar rasa empati dan membantu semampunya. Setidaknya dengan mendengar dan berempati saya sudah meringankan, tidak banyak memang, saya tahu. Tapi bukankah perhatian semacam itu yang semakin lama semakin mahal. Bahkan banyak orang lebih memilih untuk berbicara dengan orang asing daripada keluarga karena tidak merasa diterima. Oh iya, saya salah satunya yang merasa. Maka saya sangat bersyukur dengan kehadiran sedikit teman yang benar-benar mendengar saat saya berbicara. Termasuk kamu. Banyak hal lain yang patut disyukuri sebenarnya, pekerjaan yang saya cintai, tempat tinggal yang layak, orang tua yang menyayangi dengan cara yang susah dimengerti, perut yang tidak pernah kelaparan, materi saya selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan primer dan sesekali untuk mendapatkan rasa senang. Saya juga masih diperbolehkan untuk berani bermimpi, segila apapun itu.

Saya harap saat saya terpuruk dan sedih nanti, saya akan kembali kemari, membaca, dan kembali berterima kasih. Karena sesungguhnya yang saya dapat sungguh banyak. Rasanya tidak pantas untuk selalu meminta tanpa pernah berterima kasih.

Sunday, September 29, 2013

Today

Hey Dude, how's life?

Hampir tiga minggu tanpa komunikasi, yang menakjubkan saya tidak mencoba menghubungimu. Padahal hari hari awal, saya merasa tidak akan pernah membiasakan diri sendiri, karena sebulan terakhir kamu selalu ada di sini (sana). I miss you as always, cuma belakangan hidup terasa lebih ringan. I hope you are happy reading this and knowing that i'm okay for real. The quotes said that times will heal and fix everything is damn right. What makes it more true is that event we want to, we wont ever be able to stop of turn back the time. Dan seiring berjalannya, mau tidak mau hati dan pikiran akan menyesuaikan.

Well, even I'm still missing you and cant forget everything i dont want to forget, kadang teringat tentang hal-hal kecil dan bodoh yang pernah kita obrolkan di udara. Banyak hal yang memaksa ingatan kembali ke sana. Tentang bahagia saat bersama dalam waktu singkat. Terima kasih, sayang. For the condition that makes me pushing myself to another great step in my life, for letting me down so i can lift myself up. Thanks for everything.