Pertanyaan basa-basi seperti di atas seringkali saya jawab juga dengan jawaban basa-basi. Kadang sekenanya. Jangan harap pernah bisa mengintip isi hati dan kehidupan saya jika manusianya tidak saya anggap penting. Sedikit congkak memang. Tapi bukankah pada dasarnya setiap individu itu makhluk yang egois, dan saat manusia bertanya belum tentu juga ia benar-benar ingin tahu. Kalau tidak tak akan muncul istilah basa-basi busuk bukan? Atau sebenarnya yang ingin ia tahu bukan keadaan yang sebenarnya tapi hanya sekedar membandingkan siapa yang lebih sengsara setelah lama tidak bertemu. Menyedihkan tapi itulah hidup bermasyarakat.
"Life's been good!" Kali ini jawaban saya bukan basa-basi, meskipun saya yakin esensi dan tendensi penanyanya masih tidak berubah. Para penanya biasanya akan langsung memasang wajah palsu kombinasi sedikit kernyitan dan senyum dipaksakan sebelum mengajukan pertanyaan susulan. "Is there something good happen? Tell me, tell me." Biasanya saya hanya akan tertawa dalam hati, tapi saya tahu tidak baik demikian. Bagikan kebahagiaanmu dan percaya bahwa banyak kebahagiaan menantimu kemudian. Sebenarnya tidak ada yang berubah dengan keadaan saya saat ini, masih sama persis seperti awal tahun. Saya masih pengangguran, masih sendiri, masih hidup sederhana, masih bermasalah dengan keluarga, masih merasa perlu mencari apa yang harus dicari. Then what? Saya juga tidak tahu, tapi mungkin saya menambah porsi rasa syukur. Terdengar klise memang. Tapi itu resep manjur untuk menjalani hidup sedikit lebih ringan. Setiap orang mempunyai masalahnya sendiri, dan berat ringannya tetap tidak bisa dibandingkan. Saya percaya itu dan saya masih terus belajar untuk tidak pernah memandang sebelah mata terhadap apapun yang dianggap sesama adalah masalah. Saya belajar untuk lebih banyak mendengar, memperbesar rasa empati dan membantu semampunya. Setidaknya dengan mendengar dan berempati saya sudah meringankan, tidak banyak memang, saya tahu. Tapi bukankah perhatian semacam itu yang semakin lama semakin mahal. Bahkan banyak orang lebih memilih untuk berbicara dengan orang asing daripada keluarga karena tidak merasa diterima. Oh iya, saya salah satunya yang merasa. Maka saya sangat bersyukur dengan kehadiran sedikit teman yang benar-benar mendengar saat saya berbicara. Termasuk kamu. Banyak hal lain yang patut disyukuri sebenarnya, pekerjaan yang saya cintai, tempat tinggal yang layak, orang tua yang menyayangi dengan cara yang susah dimengerti, perut yang tidak pernah kelaparan, materi saya selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan primer dan sesekali untuk mendapatkan rasa senang. Saya juga masih diperbolehkan untuk berani bermimpi, segila apapun itu.
Saya harap saat saya terpuruk dan sedih nanti, saya akan kembali kemari, membaca, dan kembali berterima kasih. Karena sesungguhnya yang saya dapat sungguh banyak. Rasanya tidak pantas untuk selalu meminta tanpa pernah berterima kasih.
No comments:
Post a Comment