Hampir dua tahun, selama itu saya tidak menulis apa-apa, dan dimana-dimana. Mengingat saya hanya menulis disini dan naskah novel saya yang tidak kunjung selesai. Dalam dua tahun belakangan, saya tidak ingat apa saja hal benar-benar penting yang terlewatkan untuk dicatat disini. Atau hidup saya sungguh membosankan hingga saya tak merasa perlu mencatat. Yang pasti banyak hal terjadi, sedih dan senang silih berganti, seandainya saya bisa memilih untuk terus senang terus tanpa sedikitpun sedih. Oiya, saya juga merasa bertambah tua, leher saya sering sakit karena kolesterol, hidup saya semakin tak asik karena dikejar angsuran. Teman saya bilang kalau manusia belum bisa disebut dewasa kalau belum berurusan dengan angsuran, tak peduli apapun bendanya. Seandainya jaminan surga juga bisa diangsur dengan semua niat dan tingkah laku baik terhadap sesama pasti hidup terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Dan dalam dua tahun ini begitu banyak yang berubah, sadar tidak sadar. Termasuk hidup laki-laki yang pernah begitu saya puja siang dan malam melebihi Tuhan. Hampir semua catatan saya disini berhubungan dengannya. Memang lebih banyak curahan hati yang muram. Saya tahu. Jadi rupanya Sabtu depan, bertepatan dengan hari ulang tahun pacar saya saat ini, ia akah menikah. Praise the Lord!!! Akhirnya ia menikah. Tentu saja dengan wanita yang ia cintai, asumsi saya. Jangan keliru, asumsi saya barusan bukan berlandaskan cemburu. Hanya saja mengingat begitu banyak babak yang ia lewati dan saya ketahui, begitu susah menemukan lelaki itu seratus persen berkomitmen dengan perempuan waras. Mengapa demikian? Entah kenapa pacar-pacarnya terdahulu (yang saya kenal) selalu berpembawaan psikopat. Saya sungguh tidak berlebihan dengan deskripsi psikopat, hampir semua mantan pacarnya selalu punya riwayat cemburuan, protektif, tukang marah, emosi meledak-ledak dan main tangan. Mantan pacarnya selain saya tentu, itupun kalau saya pernah dianggap pacar. Tapi ia yang biasanya akan mengelak dengan menyebut saya kekasih. Kala itu saya akan senang bukan kepalang dengan sebutan 'kekasih'. Jangan menghakimi, saya tahu saat itu saya bodoh, dungu dan tolol.
Saya tidak begitu mengenal calon istrinya. Kami tidak berteman di jejaring sosial manapun, juga tidak merasa perlu bersilaturahmi. Meski tidak kenal, saya sadar ia tidak suka kepada saya. Mantan kekasih calon suaminya yang sampai sekarang masih berteman baik dan sesekali bertukar komentar dan emoticon di jejaring sosial privat. Jangan bilang saya GR. Saya yakin perempuan itu tidak suka saya. Dalam beberapa kesempatan, perempuan itu akan muncul dengan komentar sindiran di beberapa moment yang diupload dimana saya lebih dulu berkomentar. Iya, menyindir saya. Setelah menimbang-nimbang, saya mulai mengurangi pemberian emoticon dan komentar di jejaring sosial milik mantan kekasih saya itu. Untuk kehidupan yang lebih indah aman sentosa bagi sesama. Dalam kalimat yang lebih sederhana, saya ogah cari gara-gara.
Jujur, saya tidak yakin mereka akan cocok. Jangan bilang saya klise, menikah memang tidak melulu soal cocok atau tidak. Tapi coba hitung berapa banyak pasutri yang memilih bercerai dengan alasan sudah tidak cocok. Saya yakin sebenarnya ada alasan yang jauh lebih kompleks, tapi daripada membuka aib dan luka lama, bukankah alasan "sudah tidak cocok" akan lebih enak didengar? Tapi siapakah saya yang bisa sok meramal jalan hidup orang lain. Kalau para kerabat saya bilang, tidak ada orang yang sempurna, dan tidak akan pernah ada orang yang seratus persen cocok kalau kita tidak mau mencocokkan diri. Jadi saya berkesimpulan, hubungan apapun akan berhasil jika masing-masing tidak egois, bersedia menghormati dan menghargai orang lain, dan satu lagi yang terpenting, banyak-banyaklah bersabar.
Oiya, pernikahan itu. Saya tidak diundang. Saat saya konfirmasi kenapa saya tidak diundang, ia beralasan bahwa ia sudah mengundang semua orang melalui jejaring sosial. Saya orang yang konvensional, saya tidak akan hadir tanpa undangan resmi yang dikirim ke alamat rumah, sahut saya. Ia beralasan, saya menanggapi semakin asal. Tak apa, lagipula saya tahu kehadiran saya akan membuat suasana runyam, persis seperti saat terakhir kali saya menghadiri pernikahan mantan. Setelah berdebat masalah undangan, saya mengucapkan selamat atas pernikahannya, selamat berbahagia. Saya harap ia bahagia, karena hidup terlalu singkat untuk dilalui dengan banyak drama seperti hidupnya yang lalu-lalu. Semoga ini adalah babak baru yang dinantikan setiap orang yang menikah, babak penuh tawa bahagia dan sedikit air mata.
Selamat menempuh hidup baru. Bahagialah selalu.
*Ditulis pertengahan Juli 2016, diselesaikan Januari 2017
**Sembilan tahun sudah, saya rasa sudah saatnya saya berhenti menulis disini. Karena tidak akan ada cerita baru yang bisa ditulis untuk dibaca saat rindu. Tidak akan ada kenangan baru yang sayang untuk dilupakan. Terima kasih, kepada kamu, kepada saya yang naif kala itu. Live bold, have no regret.
No comments:
Post a Comment