Percaya atau tidak saya rindu pada diri saya yang dulu, yang begitu cespleng, yang begitu kaya akan kata-kata, yang begitu penuh dengan ide gila, yang begitu cinta akan tulis menulis, yang begitu gila membaca buku sastra, yang begitu haus dengan frase frase aneh yang bisa dituangkan dalam tulisan. Dan percaya atau tidak, untuk menulis serangkaian kalimat di atas, saya harus berhenti beberapa detik di setiap koma. Kebingungan. Bingung mau menulis apa, bingung harus memakai kata yang mana, bingung menuangkan apa yang ada di kepala.
Apakah yang berubah? Siapa yang merubah saya? Atau mungkin saya sendiri yang tanpa sadar berubah. Saya bahkan tidak begitu paham kemana arah perubahan saya. Positifkah? Atau malah negatif? Seperti melangkah sekaligus di atas dua jalan yang bercabang. Yang sama-sama tidak jelas dimana berakhirnya. Atau mungkin saya memilih tidak peduli. Kemana saja boleh, asal bukan ke neraka. Tentu saja, saya manusia biasa yang setiap malam berdoa dengan harapan hidup saya bahagia, nyaman, sejahtera, damai dan harus masuk surga. Semoga.
Kembali ke perubahan yang dengan bangsat merubah saya tanpa sadar. Saya merasa perubahan ini negatif karena sekarang saya hidup untuk hari ini. Tidak lagi berpikir jauh ke depan, jangankan ke depan, berpikir untuk esok hari saja tidak. Menyedihkan bukan? Padahal beberapa tahun yang lalu, saya tahu persis apa yang saya mau, menjadi apa, kemana mau saya bawa pikiran dan hati saya. Cita-cita saya bahkan sungguh gamblang, saya ingin bekerja di sebuah perkantoran, menikah dengan sang direktur dan menghabiskan waktu senggang dengan menjadi penulis. Praktis kesibukan saya hanya di kamar lantai dua yang menghadap ke kebun belakang, menyesap secangkir kopi dan menulis. Mungkin sesekali saya akan menulis di balai-balai dekat kolam renang. Dan cita-cita yang mulia (menurut saya) itu akhirnya terlupakan. Entah karena saya sudah bosan dan beralih ke yang lain atau saya memilih untuk realistis saja.
Sedangkan sisi positifnya, saya berubah menjadi seseorang yang santai. Koreksi, teramat sangat santai. Saya tidak lagi melankolis, perlahan sisi koleris saya bertumbuh dan mengikis si mellow. Mau bukti, buktinya saya sudah beberapa bulan tidak menyentuh tulisan disini. Tapi terlalu santai juga ternyata bisa berakhir buruk. Membuat produktivitas berkurang dan bertambah bodoh. Jujur saja, saya akhir-akhir ini merasa bertambah bodoh. Saya tidak lagi membaca tulisan-tulisan pintar di blog-blog favorit dan tidak lagi mengunjungi situs berita dengan tulisan yang tak kalah pintarnya.
Kadang saya rindu saya yang dulu. Hanya saja kalau boleh, saya tidak ingin sisi melankolis saya kembali. Saya sama sekali tidak merindukannya. Saya hanya rindu produktivitas saya yang dulu. Yang membuat saya begitu menyayangi blog ini. Dan mungkin saya juga merindukan semangat saya yang dulu. Saya perlu mencarinya, karena saya yakin semuanya masih ada di dalam sini. Tidak kemana-kemana. Mungkin hanya tertidur. Atau salah minum obat bius. Doakan saya beruntung.
Oh iya, omong-omong saya juga merindukanmu. Baik-baik di sana ya.
No comments:
Post a Comment