Monday, January 24, 2011

pisah

Adakah yang tau kapan waktu paling tepat mengucap perpisahan? Kata apa yang paling benar? Bagaimana bahasa tubuh yang sesuai? Saya tak pernah pintar mengawali perpisahan. Beberapa kali perpisahan yang saya awali berujung penyesalan.

Saya juga tak pernah siap berpisah. Terutama dengan orang-orang yang melibatkan hati lebih dari pikiran. Terlalu banyak yang dipertimbangkan, terlalu banyak pihak yang berpeluang sakit.

Atau mungkin masalahnya terletak pada saya sebagai subjeknya, mungkin saya terlalu mencintai diri sendiri. Memilih bertahan walau tersakiti. Karena tak ada yang tau, selepas dengannya bagaimana akhirnya. Lega atau malah sesak? Sadar tidak sadar naluri menolak tersakiti. Tak pernah ada yang mau kalah berjudi. Namun bukankah dalam setiap kemenangan diperlukan pengorbanan? Bukankah dalam suatu pilihan tak ada pilihan yang benar-benar benar.

Lalu bagaimana supaya perpisahan tak benar-benar berpisah? Tetap berhubungan namun tak sedekat sebelumnya. Saling bertegur sapa tanpa perlu menghindar saat tak sengaja berpapasan. Karena tak banyak perpisahan yang diselesaikan dengan baik. Seringkali malah merubah hubungan yang sudah ada. Tak jarang turut merubah orang-orang di sekitar. Orang-orang yang mendengar potongan cerita dengan improvisasi di sana sini. Akibatnya perpisahan tak hanya menjadi milik berdua, tapi melebar ke beberapa wajah yang bahkan jarang kita temui. Saya ingin berpisah namun tak ingin putus hubungan. Mudah-mudahan ia mengerti.

No comments:

Post a Comment