Monday, January 24, 2011

pesan

Belakangan saya harus banyak memilih. Sulit. Tak terprediksi. Entah jika salah apa jadinya masa setelah masa ini? Tak disangka kegiatan kecil yang saya lakukan di lingkungan sekitar memberi saya banyak pertimbangan. Alternatif jawaban untuk sebuah pertanyaan dengan contoh gamblang sebagai pelengkap sempurna. Tak penting apa yang saya dilemakan tapi ada satu pesan menarik yang amat mengena. Terasa sangat berbeda saat bukan mama yang mengucapkannya. Substansinya gamblang dan saya pikirkan selama berjam-jam, bahkan berhari-hari.

“Sudah dibilang, kalau nggak nurut orang tua pasti akan ada akibatnya, ada karmanya”.

Kurang lebih begitu, saya tidak ingat jelas kalimat persisnya. Sebelum ini tentu saya sudah pernah mendengar kalimat itu. Bahkan salah satu contoh nyata mudah ditemui dalam keluarga dekat saya sendiri. Namun saat itu saya tak terlalu peduli. Saya anggap saya masih terlalu muda, masih panjang waktu saya dan mama saya toh selama ini tak pernah melarang-larang. Beliau selama ini hanya sebatas memberi tahu dan mengutarakan pendapat. Sepertinya beliau juga menganggap usia saya masih terlalu jauh dari dilema.

Tapi entah, saya merasa sudah saatnya saya menentukan pilihan, sudah saatnya sama-sama terluka. Siap tidak siap. Kuat atau tidak. Yang penting saya sudah mencoba. Yang terpenting kita sudah berusaha. Mati-matian. Jika memang harus berakhir tak sempurna, tentu memang sudah jalannya. Mungkin memang seharusnya. Tak pernah ada yang tahu akhir dari sebuah awalan. Anggap saja berjudi. Kali ini memang kita kalah tapi belum tentu yang berikutnya kita tak bisa menang. Tapi yang saya tau saya sudah sering mendengar “jangan”, beberapa waktu lamanya tak saya hiraukan. Saya tak mau melawan. Mungkin saya menyerah.

No comments:

Post a Comment