Monday, January 24, 2011

tahu, tidak tahu

Taukah kau bagaimana rasanya mencintai orang yang tak bisa sepenuhnya termiliki?

Saya tahu.

Tahukah kau bagaimana rasanya menaruh harapan tanpa yakin sebenarnya masih adakah harapan?

Saya tahu.

Tahukah kau bagaimana rasanya saat sama-sama tersadar bahwa kau dan dia sama-sama saling membutuhkan lebih dari yang lain?

Saya tahu.

Tahukah kau bagaimana rasanya saat tak bisa menghubunginya saat membutuhkan suaranya lebih dari yang lain?

Saya tahu.

Tahukah kau bagaimana rasanya saat terbangun dan dihadapkan pada kenyataan yang sangat berbeda dengan mimpi indah semalam?

Saya tahu.

Tahukah kau bagaimana rasanya berandai-andai ia di hadapanmu dan banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan bersama?

Saya tahu.


Tahukah kau yang ada di dalam sini?

Saya sendiri tak tahu.








Atau mungkin menolak tahu.

pesan

Belakangan saya harus banyak memilih. Sulit. Tak terprediksi. Entah jika salah apa jadinya masa setelah masa ini? Tak disangka kegiatan kecil yang saya lakukan di lingkungan sekitar memberi saya banyak pertimbangan. Alternatif jawaban untuk sebuah pertanyaan dengan contoh gamblang sebagai pelengkap sempurna. Tak penting apa yang saya dilemakan tapi ada satu pesan menarik yang amat mengena. Terasa sangat berbeda saat bukan mama yang mengucapkannya. Substansinya gamblang dan saya pikirkan selama berjam-jam, bahkan berhari-hari.

“Sudah dibilang, kalau nggak nurut orang tua pasti akan ada akibatnya, ada karmanya”.

Kurang lebih begitu, saya tidak ingat jelas kalimat persisnya. Sebelum ini tentu saya sudah pernah mendengar kalimat itu. Bahkan salah satu contoh nyata mudah ditemui dalam keluarga dekat saya sendiri. Namun saat itu saya tak terlalu peduli. Saya anggap saya masih terlalu muda, masih panjang waktu saya dan mama saya toh selama ini tak pernah melarang-larang. Beliau selama ini hanya sebatas memberi tahu dan mengutarakan pendapat. Sepertinya beliau juga menganggap usia saya masih terlalu jauh dari dilema.

Tapi entah, saya merasa sudah saatnya saya menentukan pilihan, sudah saatnya sama-sama terluka. Siap tidak siap. Kuat atau tidak. Yang penting saya sudah mencoba. Yang terpenting kita sudah berusaha. Mati-matian. Jika memang harus berakhir tak sempurna, tentu memang sudah jalannya. Mungkin memang seharusnya. Tak pernah ada yang tahu akhir dari sebuah awalan. Anggap saja berjudi. Kali ini memang kita kalah tapi belum tentu yang berikutnya kita tak bisa menang. Tapi yang saya tau saya sudah sering mendengar “jangan”, beberapa waktu lamanya tak saya hiraukan. Saya tak mau melawan. Mungkin saya menyerah.

pisah

Adakah yang tau kapan waktu paling tepat mengucap perpisahan? Kata apa yang paling benar? Bagaimana bahasa tubuh yang sesuai? Saya tak pernah pintar mengawali perpisahan. Beberapa kali perpisahan yang saya awali berujung penyesalan.

Saya juga tak pernah siap berpisah. Terutama dengan orang-orang yang melibatkan hati lebih dari pikiran. Terlalu banyak yang dipertimbangkan, terlalu banyak pihak yang berpeluang sakit.

Atau mungkin masalahnya terletak pada saya sebagai subjeknya, mungkin saya terlalu mencintai diri sendiri. Memilih bertahan walau tersakiti. Karena tak ada yang tau, selepas dengannya bagaimana akhirnya. Lega atau malah sesak? Sadar tidak sadar naluri menolak tersakiti. Tak pernah ada yang mau kalah berjudi. Namun bukankah dalam setiap kemenangan diperlukan pengorbanan? Bukankah dalam suatu pilihan tak ada pilihan yang benar-benar benar.

Lalu bagaimana supaya perpisahan tak benar-benar berpisah? Tetap berhubungan namun tak sedekat sebelumnya. Saling bertegur sapa tanpa perlu menghindar saat tak sengaja berpapasan. Karena tak banyak perpisahan yang diselesaikan dengan baik. Seringkali malah merubah hubungan yang sudah ada. Tak jarang turut merubah orang-orang di sekitar. Orang-orang yang mendengar potongan cerita dengan improvisasi di sana sini. Akibatnya perpisahan tak hanya menjadi milik berdua, tapi melebar ke beberapa wajah yang bahkan jarang kita temui. Saya ingin berpisah namun tak ingin putus hubungan. Mudah-mudahan ia mengerti.

Friday, January 21, 2011

if i were

if im yer bf i'll said to you:

there is no forever
i love you for now, we are together for now
not forever
cuz i love you for no reason

konyol

shyrdjfr : love me but dont try me
khlddjfr : do me but dont fool me

sinting!!