Monday, June 17, 2013

Electric

Mungkin separuh hidupnya dipengaruhi oleh musik. Musik yang sanggup membuatnya segera beranjak dari kasur di pagi hari. Musik juga yang memperbaiki seleranya, selera apa, selera apa saja. Bekerja, menangis, tertawa, berkarya, bercinta, bepergian, bertengkar, menulis apalagi. Benar jika inspirasi bisa datang dari mana saja. Kepunyaannya mungkin datangnya dari sisi sebelah kiri. Musik yang menjawabnya. Sensasi mendengar intro yang mengundang senyum. Saat nada itu merasuki jiwa, tak lama dia akan beralih ke lirik. Kata demi kata yang terpilih untuk dirangkai. Beberapa di antaranya amat indah karena dirangkai. Beberapa yang lain indah dengan kesendiriannya. Beberapa melodi istimewa bahkan tidak perlu dilengkapi kata. Secara ajaib, indah. Indah yang melampaui semua keindahan, ajaib. Kemudian tak lama ia akan menggumam sebelum mulai bersenandung. Jenius.

Untuk urusan musik, dia amat setia. Dia akan begitu memuja, bahkan kadang terlampau cinta. Dia akan mencekoki telinganya dengan musik yang sama. Setiap hari. Berulang-ulang tanpa ampun. Begitu terus sampai akhirnya otak menolak. Sampai hatinya tak lagi tergerak. Atau sampai dia menemukan penggantinya. Tapi sekali lagi, bahkan telinganya sekarang mengikuti tuannya. Amat selektif. Tak mudah dipuaskan. Persis seperti sifat tuannya. Bukan perfeksionis. Hanya saja dia menyukai segala sesuatu yang berada di sana, persis di tempat yang seharusnya. Menurut dia. Dia juga amat penasaran saat sesuatu menarik perhatiannya. Tanpa segan ia akan berusaha menariknya mendekat, mengusahakan, menikmatinya jika sudah dapat, dan saat tak ada lagi gairah yang tersisa. Jangan salahkan dia jika ia juga tanpa segan akan membuang. Atau tanpa sengaja ia jatuhkan entah dimana. Sama dengan musik yang akan selalu disana. Tercatat di playlistnya. Yang tidak akan pernah diputar lagi. Karena ia tidak menyukai playlistnya terpasang di posisi shuffle. Karena hidupnya telah terpatok paten di posisi itu. Terlalu banyak kejutan, terlalu banyak yang tidak berjalan seperti seharusnya. Maka ia paksa telinganya untuk mengikuti apapun maunya. Apapun yang hati dan otaknya inginkan. Karena apa yang ada di tubuhnya adalah miliknya. Ia tidak mau lagi-lagi dipermainkan, biar ia yang kali ini mempermainkan.


Electric - Lana Del Rey diputar berulang-ulang.

random conver

Them: Sejak kapan sih kita peduli dengan apa kata orang lain tentang kita?
Him: Sampai kapan sih kamu mau menyamakan kamu dengan cewek-cewek lain?
Her:  She's the one? Yang bener aja, I'm the one. Come on, babe, u knew that!
Them: Hey you! I miss you!
Him: Are u sure? | Her: Pretty sure | Him: Sure, pretty | Her: Oh no, i will miss this | Him: You will, miss
Them: Y|O|S|A|V|Y|L | Her: Whats that? | Him YOu are Sweet And VerY loveLy
Her: Live free love free
Her: Life is messy, love is messier
Him: How bout Lionel Messi? He is messiest i think
Her: Leave her, if you love me leave her then
Him: Dont hate me, I'm yours actually
Her: Thats fuckin sweet, darl
Him: Thats fuckin me, darl
Her: U know, someone said that a man will do everything for love. Do u love me? The question is
Him: I will said "When you want something you've never had, you have to do something you've never done. " And yes I love you, you knew that
 Her: Should i cry right now?
 Him: Dont cry. Tonight supposed to be fun for us
 Her: But i want you, leave her. I just want u for myself. Is that selfish?
Him: I'm selfish too 
 Her: Then, will u go for me or not?
 Him: I will go for you, I'll show you when we met
=END CHAT= 

Thursday, June 13, 2013

tiga

ketika sesuatu bernama komitmen, determinasi dan dedikasi sungguh benar diuji. kamu tidak akan pernah benar tahu mana yang benar. mana yang boleh mana yang tidak boleh. seperti melakukan apapun tetap saja salah. seperti mencoba membenahi tanpa panduan, barang sedikit. bikin pusing kepala saja, iya. saya mengalaminya sekarang. ketika orang sekeliling berpendapat dan menambahkan beban. beban bernama rasa bersalah dan gagal. sedikit saja salah langkah maka habis sudah.

tapi tiga hal di atas sungguh bukan perkara mudah. saya selalu saja begini. memulai namun tidak pernah menyelesaikan. mengerjakan tapi tidak pernah tuntas. bikin kesal saja. bukan hanya saya. tapi mungkin orang di sekeliling yang semakin gemas. diam saja yang tidak pernah benar berhenti. berubah-ubah. mudah bosan. tertarik dengan banyak hal. mencoba berbagai macam. dan selalu berhenti atas nama passion yang tidak lagi sama. yang tidak lagi besar. dan mungkin kita tidak lagi sejalan.

saya sadar masalah terbesar ada pada diri sendiri. yang harus diperbaiki ya diri sendiri. yang harus dikoreksi ya diri sendiri. yang semangatnya harus dipompa ya diri sendiri. yang tidak becus ya diri sendiri. tapi siapa yang pernah menang mutlak dengan diri sendiri? siapa? pertemukan saya dengannya. biarkan saya berkeluh kesah. biarkan saya tumpah. kemudian giliran saya yang mendengar. giliran saya yang mencoba.

pertanyaan terbesarnya. yang paling penting. apa benar saya masih ingin berada disini? apa benar saya tidak menginginkan yang lain? karena yang beriringan sungguh membuat saya nyaman.