Monday, May 31, 2010

masih manusia

tidak ada yang salah dengan air mata
karena dengan menangis kita menunjukkan bahwa kita manusia

hari ini hari saya abu-abu kelabu, memang semua masalah saya akhir-akhir ini memang dampak negatif dari sebuah keputusan salah yang dulu pernah saya buat. keputusan ceroboh yang saya sesali. tapi toh saya sadar, tidak ada gunanya menyesali keputusan sebaliknya yang harus saya lakukan adalah berusaha membuat yang negatif kembali menjadi positif. ternyata saya tak tahan banting, kesungguhan saya tak seteguh yang saya duga. sikap negatif yang terus ditujukan pada saya akhirnya membuat saya runtuh juga. sebal memang mendapati saya lemah, namun ini juga yang membuat saya sadar bahwa saya masih manusia.

kelemahan saya berpusat pada satu titik. trauma. ada lubang besar di hati dan pikiran yang selamanya tak akan pernah terisi. banyak orang salah yang saya biarkan mencoba mengisinya namun akhirnya gagal juga. sampai saya putus asa dan akhirnya menyerah. orang yang terakhir berjanji akan mengisi bagian hilang itu dan saya percaya. saya menaruh harapan besar padanya, berharap dia akan mengerti saya dan saya akan belajar mengerti dia. saya tau ini tidak akan mudah, tidak akan pernah mudah. sekali saya melakukan kesalahan dan dia mulai berpaling. menuntut permintaan maaf dan pengorbanan. berbalik menyerang dan menyudutkan saya. sampai di titik ini. sampai barusan. sampai saya menangis dan menemukan bahwa lagi-lagi saya sendiri masih dengan lubang yang menganga. saya sadar saya bersalah padanya dan mungkin meminta terlalu banyak. tapi saya sudah terlanjur sakit, sakit sekali. memang bukan dia satu-satunya yang membuat saya sakit. tapi lebih pada diri saya sendiri. hati dan pikiran saya yang menyakiti diri saya sendiri. saya kalah pada diri sendiri. lagi-lagi saya sadar bahwa saya masih manusia

Sunday, May 30, 2010

tiba-tiba

banyak hal dalam hidup saya serba tiba-tiba, seperti baru saja. tiba-tiba si 'bodoh' menelpon dan menceritakan masalah keluarga yang sedang dihadapinya. tiba-tiba saja saya menjadi terhanyut pada masalahnya dan ikut-ikutan marah pada si ayah yang disini menjadi oknum bersalah. tiba-tiba saya tidak hanya marah pada si ayah tapi juga pada si 'bodoh' yang seringkali tidak tegas dalam bertindak dan mengambil keputusan. tiba-tiba juga saya sebal setengah mati pada adiknya yang plin plan, pada si ayah yang suka marah-marah dan pada si 'bodoh' yang suka lari dari masalah. dan yang paling berbahaya, tiba-tiba muncul rasa penat yang luar biasa. lelah menjadi penopang masalah-masalahnya yang berat, capek dengan kebingungan yang tiba-tiba. dan untuk kesekian kalinya tiba-tiba ragu menghinggapi pikiran saya. tiba-tiba sebuah tanda tanya besar bertengger di atas kepala saya (jangan dibayangkan, saya cuma bermajas). apa rasa cintanya yang besar cukup untuk mengobati ragu saya? apa benar saya sanggup mengatasi setiap masalah yang menghadang, dan saya yakin masalah itu tak akan pernah ada habisnya? karena saya sadar, terlalu banyak perbedaan yang ada.

tiba-tiba saja,
saya punya pikiran untuk menyerah

curhat-curhatan

postingan pertama!!
sesaat sebelum menulis post ini saya ditanyai oleh seorang teman saya, teman jauh. saya bahkan belum pernah bertemu dengan teman saya ini.
dia bertanya, "ra kesepian ditengah keramaian,ga tau mau ngapain padahal byk pekerjaan??pnah ngalamin ga??share dong??"
nah, jelas saya berpikir, "manusia mana sih di dunia ini yang nggak pernah ngerasain masalah itu?" bahkan saya sendiri juga sering dilanda masalah yang sama. terkadang berulang kali dalam satu minggu. namun jika ditanya apa solusinya, terus terang saya masih bingung. kalau saya tau ngapain dalam satu minggu saya ngerasain masalah yang sama berulang-ulang? bener nggak?

setelah saya pikir-pikir dan pikir, selama ini saya selalu nulis atau denger musik kalau lagi ngadepin masalah teman saya tadi. dan dua kegiatan di atas itu masing-masing adalah hobi saya. jadi kesimpulannya, buat menetralisir rasa nggak enak semacam itu kita harus senang. memang nggak semua orang bisa dengan gampang menetralisir suasana, apalagi kalau orang tersebut termasuk orang melankolis (semacam saya!). tapi di situlah letak permasalahan sebenarnya, masalah yang sebenarnya ada bukan 'sepi di tengah ramai-ramai' tapi lebih kepada kemauan kita untuk menyelesaikannya. kalau kita menghadapi masalah bukan alasan untuk bermalas-malas atau bermellow-mellow ria, apalagi mengeluh pada orang lain. memang tidak ada salahnya share kepada teman dekat, dan saya sadar betul memang itulah fungsi teman sebenarnya. tapi bukan alasan juga untuk berlarut-larut tanpa usaha mencari pemecahannya. buktinya saya berhasil merubah sedikit dari kepribadian saya dari melankolis abis menjadi plegmatis, meski saya akui kadang plegma saya rada kebablasan. kelewat cuek kalau teman dan pacar saya bilang. tapi minimal saya mau berusaha dan tidak hanya diam-diam menunggu orang lain memberi solusi. minimal saya mau mencoba!

saya juga sudah memberi saran pada teman saya tadi, saya bilang dia harus bersenang-senang, siapa tau yang dia alami cuma salah satu bentuk dari kebosanan. bosan dengan rutinitas sangat gampang menyerang bukan? saya harap yang bersangkutan mau mencoba saran saya dan tidak hanya diam berpangku tangan menunggu orang lain menyelesaikan masalahnya. semoga sukses, teman!