Mungkin tidak banyak orang yang sadar bahwa dia juga manusia. Dia juga merasakan yang manusia-manusia lain rasakan. Memang, dia jarang mengeluh. Dia selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman, sesekali dengan tertawa. Dia selalu bilang tidak apa-apa. Dia selalu bilang dia baik-baik saja. Dia akan menghilang sehari ataupun semalam, berkubang dalam kesedihan dan kembali menyambut esok hari dengan kesan bahwa ia baik-baik saja. Yang terjadi semalam hanyalah badai kencang yang biasa dihadapi para pelaut saat pasang tiba. Dia selalu menjadi dia yang mengalah, yang setia. Dia selalu menjadi apapun yang engkau inginkan, teman, sahabat, kakak, adik, dan sesekali tempat sampah. Dia akan selalu berusaha membuatmu nyaman, membuatmu merasa disukai, menempatkan kepentinganmu di atas kepentingannya, mendahulukanmu. Dia juga menjaga tutur katanya, menjaga sedemikian rupa sehingga tidak perlu kamu yang merasa tidak enak. Dia selalu ada, dia selalu pasang badan untuk yang lainnya. Dia tidak mau yang lain terluka.
Tapi nampaknya yang lain lupa kalau dia juga manusia. Dia sama seperti yang lainnya. Bisa sakit, bisa merasa sakit, bisa merasa disakiti, bisa merasa sakit hati. Dia sama seperti yang lainnya. Bisa lelah, bisa capek, bisa pusing, bisa cemas, bisa kuatir, bisa dipermainkan oleh kepala dan hatinya sendiri. Dia sama seperti yang lainnya. Dia ingin merasa dicintai, merasa dibutuhkan, merasa disayangi, merasa nomor satu, merasa dimanjakan. Lalu mengapa dia merasa semua itu adalah hal yang mewah? Karena sejak kecil dia selalu sendirian tanpa pernah merasa menjadi satu-satunya. Karena sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kesengsaraan dan teriakan kemarahan. Karena sejak kecil dia tak pernah menonjol dan hidup dalam bayang-bayang. Karena sejak kecil dia tidak pernah memahami bagaimana hangatnya keluarga. Karena sejak kecil dia terbiasa menangis dalam tidurnya, Karena sejak kecil kebahagiannya telah dirampas paksa. Karena sejak kecil dia telah disudutkan, dipaksa mengerti, diharuskan mengimbangi yang dewasa. Padahal itu sama sekali bukan kapasitasnya.
Lalu sekarang dia telah benar-benar tumbuh dewasa. Dengan begitu banyak beban berat di kepala dan pikiran negatif yang tak akan pernah lepas. Konsepnya akan kebahagiaan sudah teracuni dan buram. Namun hebatnya dia masih baik-baik saja. Dia masih bisa berdiri tegak dan tidak memalukan. Bahkan tak banyak yang menyadari bahwa diam-diam kepaitan itu menggerogoti dan membinasakannya dari dalam. Membunuhnya perlahan. Dan orang-orang dewasa itu seakan menganggap apa yang dilaluinya itu biasa-biasa saja, Wajar dilalui olehnya. Karena banyak yang lebih menderita darinya. Seakan mereka lupa kalau dia manusia. Seakan mereka lupa kalau aku masih manusia.
Dan ia mendengar pikirannya bersuara "Haruskah kuhabisi diriku untuk mengingatkan mereka?"